Sumpah Pemuda: Sejenis Refleksi, Antitesis atau Apapun Itu..

Bulan Oktober bisa dibilang bulan yang bersejarah, sebab ada dua peristiwa besar terjadi di bulan ini. Awal dan akhir bulan. Tahukah kau apa itu? Baiklah, bagi yang belum tahu, ada tiga kemungkinan besar; 1. kau orang luar negeri, 2. kau tidak punya tivi atau 3. kau balita . Semoga kau bukan nomor 3, karena untuk apa seorang balita main-main internet? saya saja nanti kuliah baru tau internet. Sedihnya aku.

Tulisan berikut ini merupakan refleksi saya setahun lalu. Saya posting kembali karena menurut saya, esensinya masih relevan dengan kondisi saat kini, bahkan kayaknya untuk masih cocok tahun-tahun kedepan. (Ini sesungguhnya alasan yang cenderung dibuat-buat, alasan yang sebenarnya adalah karena saya malas).

Sumpah

Manusia itu makhluk unik, selalu ingin merayakan segala hal. Dari hal-hal yang tidak penting sampai hal-hal yang betul-betul penting. Penting tidak penting disini tergantung persepsi masing-masing orang. Begitu juga dengan hari ini, hari Sumpah pemuda.

Sumpah pemuda adalah sejarah. Kenangan 84 tahun lalu. Ingat selamanya atau lupakan selamanya. Itu pilihanmu. Jangan ikut-ikutan merayakan kalau kau tidak tahu untuk apa. Ini bukan sesuatu yang harus dirayakan dengan acara bakar lilin, bakar kembang api ataupun bakar-bakar ikan. :p

Pada akhirnya sejarah akan mengalami degradasi nilai. Setelah kematian para saksi hidup, cerita-cerita heroik perjuangan itu akan menjadi legenda dan mitos. Kau hanya akan menemukannya dalam buku-buku dongeng, cerita pengantar tidur yang menjemukan atau film-film ababil dimana porsi untuk romansa pemudapemudi lebih diutamakan.

                                   ini bukan sumpah pemuda lho…

                                  apalagi ini, ini sih namanya curhat.. :p

Sejarah mewakili komunitas pecinta hal-hal tradisional dan konservatif. Kalau kau tidak mampu hidup dalam lingkaran itu, mending segera keluar. Kau akan melihat bangunan-bangunan pencakar langit, pesawat-pesawat berkecepatan cahaya dan manusia Mars. Mungkin itu lebih menghibur hatimu.

Soekarno pernah berkata jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Tapi pada akhirnya, kita memang melupakannya.

PS: Apakah kau temukan makna dan pesan-pesan tersirat dari tulisan ini? Kalau kau jawab iya, syukurlah, artinya kau anaknya selalu berpikir kritis nan positif. Kalau kau jawab tidak, berarti kita sepemikiran. Tulisan apa sih ini?

Fakta: Pada 28 Oktober 1928, hasil Kongres Pemuda II tidak langsung dinamai Sumpah Pemuda. Nama hasil kongres pada waktu itu adalah “Ikrar Pemuda”.  Teksnya pun bukan seperti yang kita kenal sekarang, telah diubah. Perubahan-perubahan itu dilakukan oleh Presiden Soekarno dan Muhammad Yamin. Apa alasannya? Selengkapnya baca disini dan disini.

Advertisements

Kajian Historis: Gegar Budaya & Asal Mula Penamaan Ikan

Kalau kau pertama kali ke Surabaya dan memutuskan untuk bertandang ke warung makan, sebaiknya bersiaplah untuk mengalami gegar budaya. Ini cuma berlaku untuk yang berasal dari luar pulau Jawa. Gegar budaya bukan sejenis bahaya kalau kau pikir seperti itu. Kalau kau tidak tahu apa artinya, cobalah luangkan sedikit waktumu untuk bertanya pada dosen Bahasa Indonesiamu yang pada waktu itu memberimu nilai D, disebabkan karena kau terlalu banyak menggunakan bahasa isyarat dengan asap dan api daripada menggunakan pita suaramu yang lembut itu untuk berkomunikasi dengan sejenismu.

Untuk kau tahu, di wilayah sini (ataupun di wilayah Jawa yang lain saya kurang tahu) itu menggunakan istilah ikan (iwak) untuk semua jenis lauk, misalnya tempe, telur, peyek. Makanya jangan kau heran lagi apabila mendengar istilah iwak tempe, iwak telur ataupun iwak peyek. Adapun kalau kau masih merasa heran, artinya kau tidak menyimak baik-baik paragraf ini dari awal. Cobalah baca kembali.

Kalau kau termasuk anak yang kritis yang disebabkan oleh otak neocortex-mu yang hiperaktif itu, dan terus bertanya-tanya mengapa demikian terjadi? Pertama-tama yang harus kau pahami adalah bahwa penjualnya bukan penganut metode dekonstruksi Derrida ataupun pengagum Romeo & Juliet-nya Shakespeare, kalau kau berpikir seperti itu. Istilah itu tidak lahir dari sebuah telaah kritis atas identitas penamaan yang melekat pada subyek ikan, yang kemudian membatasi karakternya secara kaku. Istilah ini muncul sejak dahulu, sehingga lebih mengarah ke kajian historis.

Pada dasarnya kau sebagai manusia merupakan insan yang selalu ingin tahu, walaupun tidak semua hal harus perlu kau tahu. Sehingga walaupun saya tidak kasitahu, kau pasti akan terus mencari tahu. Baiklah karena kau mau tahu, saya akan beritahu;
Berdasarkan sumber yang masih diragukan keabsahannya, sehingga tidak perlu kau kutip dan jadikan literatur dalam karya tulis ilmiahmu, hal ini berkaitan dengan sejarah masa lalu di kota ini, dimana pada zaman dahulu sewaktu Belanda masih menjajah, mereka tentunya butuh yang namanya makan. Itu membuktikan bahwa kita sebenarnya memiliki banyak kesamaan, salah satunya sama-sama makan. Jadi untuk apa rasis?. Kembali ke topik, mereka kemudian menghabiskan semua ikan dan ayam untuk dimakan oleh kaum mereka. Hal ini akhirnya menyebabkan warga pribumi yang kebetulan sama-sama lapar dan butuh makan juga cuma bisa mengkonsumsi tahu tempe. Oleh karena itu, demi terciptanya kesetaraan semu dan untuk membesarkan hati, para warga lokal menamakan tahu tempe sebagai ikan. Ikan betulan atau tidak yang penting keren. Itulah ceritanya, walaupun terkesan janggal, tapi intinya pada pendahulu kita dahulu termasuk masyarakat yang kreatif.

NB: kalau kau bingung dengan tulisan ini, susah memahami maksudnya. Jangan hubungi saya, pikirkankan sendiri. Kau sudah besar.

Untuk Kerah Putih

[1]
Kalau kau pernah yakini bahwa dunia ini adalah segalanya dan lebih menyukai gagasan bahwa kekayaan adalah kunci kebahagiaan, segeralah bertobat. Setidaknya kurangilah perilakumu yang suka menghambur-hamburkan uang rakyat. Bukan kurangi sih, tapi lebih tepatnya musnahkan.

[2]
Mungkin selama ini kau berpendapat bahwa uang negara itu merupakan uang untuk orang-orang seperti kamu. Toh, karena kau berpendapat bahwa rakyat telah memiliki uang yang disimpan di dalam dompet mereka masing-masing. Terus mengapa rakyat harus mengklaim bahwa itu uang mereka? Sudah jelas-jelas bahwa negara bukan bank, bukan tempat menyimpan uang.

menabung itu memang baik, tapi…

[3]
Tidakkah kau saksikan film 2012 atau Knowing? Walaupun saya anjurkan untuk tidak serta merta kau harus menelan bulat-bulat alur ceritanya yang jelas-jelas itu termasuk genre fiksi. Dan juga walaupun saya masih ragu kau punya waktu untuk menonton film-film tersebut, disebabkan kau lebih sibuk mensurvey, meninjau, mengamati, menimbang serta memutuskan dana apa lagi yang akan menjadi target korupsimu hari ini, besok, lusa dan seterusnya.

[4]
Untuk itu saya sarankan, luangkanlah waktumu untuk keluar dari kompleks perumahan berpagar tinggimu itu. Hingga kau saksikan bahwa kemiskinan di masyarakat itu benar-benar adanya. Bukan hanya terdapat dalam buku-buku statistik ataupun di pameran-pameran foto. Bukan hanya sekedar diamati dengan mata (penglihatan), tapi  ditangani dengan tangan (perbuatan).