Kajian Historis: Gegar Budaya & Asal Mula Penamaan Ikan

Kalau kau pertama kali ke Surabaya dan memutuskan untuk bertandang ke warung makan, sebaiknya bersiaplah untuk mengalami gegar budaya. Ini cuma berlaku untuk yang berasal dari luar pulau Jawa. Gegar budaya bukan sejenis bahaya kalau kau pikir seperti itu. Kalau kau tidak tahu apa artinya, cobalah luangkan sedikit waktumu untuk bertanya pada dosen Bahasa Indonesiamu yang pada waktu itu memberimu nilai D, disebabkan karena kau terlalu banyak menggunakan bahasa isyarat dengan asap dan api daripada menggunakan pita suaramu yang lembut itu untuk berkomunikasi dengan sejenismu.

Untuk kau tahu, di wilayah sini (ataupun di wilayah Jawa yang lain saya kurang tahu) itu menggunakan istilah ikan (iwak) untuk semua jenis lauk, misalnya tempe, telur, peyek. Makanya jangan kau heran lagi apabila mendengar istilah iwak tempe, iwak telur ataupun iwak peyek. Adapun kalau kau masih merasa heran, artinya kau tidak menyimak baik-baik paragraf ini dari awal. Cobalah baca kembali.

Kalau kau termasuk anak yang kritis yang disebabkan oleh otak neocortex-mu yang hiperaktif itu, dan terus bertanya-tanya mengapa demikian terjadi? Pertama-tama yang harus kau pahami adalah bahwa penjualnya bukan penganut metode dekonstruksi Derrida ataupun pengagum Romeo & Juliet-nya Shakespeare, kalau kau berpikir seperti itu. Istilah itu tidak lahir dari sebuah telaah kritis atas identitas penamaan yang melekat pada subyek ikan, yang kemudian membatasi karakternya secara kaku. Istilah ini muncul sejak dahulu, sehingga lebih mengarah ke kajian historis.

Pada dasarnya kau sebagai manusia merupakan insan yang selalu ingin tahu, walaupun tidak semua hal harus perlu kau tahu. Sehingga walaupun saya tidak kasitahu, kau pasti akan terus mencari tahu. Baiklah karena kau mau tahu, saya akan beritahu;
Berdasarkan sumber yang masih diragukan keabsahannya, sehingga tidak perlu kau kutip dan jadikan literatur dalam karya tulis ilmiahmu, hal ini berkaitan dengan sejarah masa lalu di kota ini, dimana pada zaman dahulu sewaktu Belanda masih menjajah, mereka tentunya butuh yang namanya makan. Itu membuktikan bahwa kita sebenarnya memiliki banyak kesamaan, salah satunya sama-sama makan. Jadi untuk apa rasis?. Kembali ke topik, mereka kemudian menghabiskan semua ikan dan ayam untuk dimakan oleh kaum mereka. Hal ini akhirnya menyebabkan warga pribumi yang kebetulan sama-sama lapar dan butuh makan juga cuma bisa mengkonsumsi tahu tempe. Oleh karena itu, demi terciptanya kesetaraan semu dan untuk membesarkan hati, para warga lokal menamakan tahu tempe sebagai ikan. Ikan betulan atau tidak yang penting keren. Itulah ceritanya, walaupun terkesan janggal, tapi intinya pada pendahulu kita dahulu termasuk masyarakat yang kreatif.

NB: kalau kau bingung dengan tulisan ini, susah memahami maksudnya. Jangan hubungi saya, pikirkankan sendiri. Kau sudah besar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s