Kajian Pembangunan Kota Baubau dengan Pendekatan Semiotika: Sebuah Pengantar

Kita sudah sama-sama sering melihat atau membaca tentang kajian pembangunan pada suatu wilayah, baik dari sisi sosial, ekonomi, ekologi atau budaya. Itu kayaknya sudah dianggap sebagai suatu kemafhuman, karena tanpa kegiatan seperti itu maka tidak akan ada skripsi atau tesis mahasiswa yang berjejer di rak-rak perpustakaan universitas. Percayalah.

Untuk diketahui, pengertian dari semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji atau memaknai suatu tanda. Bagi semiotika, yang dimaksud tanda adalah apa saja yang mencakup segala hal, mulai dari bahasa, warna dan bentuk pakaian, gerak-gerik tubuh, menu makanan, musik, dan lain-lain. Segala sesuatu yang dapat mewakili atau menggantikan yang lain disebut tanda. Jadi intinya seperti itulah. Seperti apa itu? yaitu sederhananya, semiotika mempelajari relasi diantara komponen-komponen tanda, serta relasi antar komponen-komponen tersebut dengan masyarakat penggunanya. Jadi dengan memahami konsep semiotika, seseorang dapat menganalisis sebuah pesan dari segala sesuatu yang coba ditampilkan atau dikomunikasikan kepadanya.

Masuk ke inti, pembangunan di kota Baubau dalam kurun waktu 10 tahun terakhir sejak otonomi daerah telah berkembang pesat. Bisa kita saksikan, beberapa diantaranya yaitu pembukaan sejumlah kawasan permukiman baru, revitalisasi kawasan wisata seperti kawasan benteng Keraton Buton, gua lakasa dan wisata Air Tirta Rimba, pembangunan sejumlah ruang terbuka publik seperti pantai Kamali dengan landmarknya yaitu naga, bukit Kolema, bukit Wantiro, pantai Topa, renovasi pasar Wameo serta yang terakhir yaitu pembangunan kawasan terpadu Kota Mara. Sampai disini, bisa dibilang pemerintah daerah dinilai telah cukup sukses untuk mengukuhkan status dan dominasi Kota Baubau sebagai sentral bagi wilayah hinterlandnya, terlepas dari masih buruknya manajemen pengelolaannya.

5

Andai dicermati secara teliti, bisa dilihat dari gambar diatas bahwa terdapat unsur keseragaman pada sebagian besar item-item pembangunan diatas. Apa itu? yaitu pada unsur warna yang didominasi warna hijau. Ini bukanlah sebuah kebetulan. Mengapa begitu? Karena bila setiap penanda (signifier) memerlukan petanda (signified) untuk memberikan makna (signification) maka hal ini dapat dimaknai bahwa ada konstuksi makna yang coba dibangun berdasarkan warna tersebut, dalam hal ini yaitu warna dari partai politik yang diusung oleh sang Walikota terpilih. Untuk partai apa, itu tidak penting karena bukan itu pokok pembahasannya. Jelasnya, homogenitas warna pada tiap-tiap kawasan pembangunan tidak bisa kita lihat sebagai sesuatu yang terjadi sebagai kebetulan semata. Ada makna yang terkandung didalamnya. Untuk itulah studi semiotika hadir sebagai pisau analisis dalam mengkaji fenomena mengenai unsur warna yang dimasukkan dan ditampilkan secara homogen pada tiap bentukan arsitektur pada kawasan yang dibangun. Sehingga pemaknaannya tidak hanya hanya sekedar sebuah bangunan atau kawasan saja, tapi lebih merujuk kepada representasi terhadap dominasi partai penguasa pemenang Pemilukada di wilayah tersebut, dalam hal ini kota Baubau. Semua ini, tidak lain adalah sebuah bentuk komunikasi politik berupa pesan visual demi menciptakan relasi yang kuat antara pemerintah yang berkuasa dengan masyarakatnya.

Seperti itulah.

NB: Tulisan ini hadir hanya sebagai sebuah wacana pengantar yang mungkin bisa dijadikan pondasi dalam kajian-kajian lanjutan terkait semiotika dan pengaruhnya terhadap masyarakat baik ditinjau dari sisi arsitektur, sosiologi, komunikasi maupun pada bidang lainnya. Selamat mencoba. hehe