Solusi Semua Masalah Ada Pada TV

Masalah yang sama terulang kembali. Bencana alam maupun bencana kemanusiaan. Kalaupun berbeda itu hanya dari jumlah korbannya. Kita memang tidak pernah belajar dari kesalahan. Hanya memandang masalah secara pragmatis. Kalaupun dicari jalan keluarnya, pasti tanpa mencari dan melihat apa akar penyebab masalahnya. Kalaupun ada yang mencari, pasti dipikir akan membuang-buang waktu, energi, dan tentunya ongkos. Dan akhirnya sebagian besar solusi hanya berakhir di alam ide.

Mengapa begitu? Karena masyarakat hanya ingin melihat apa yang ingin mereka lihat. Ketika semua keriuhan peristiwa tidak lagi ditayangkan atau diberitakan di televisi, itu artinya semuanya telah berakhir, semua menjadi baik-baik saja dan kembali berjalan normal. Setidaknya normal menurut asumsi mereka sendiri. Jadi kalau semua sudah diasumsikan kembali normal, buat apa lagi dipermasalahkan? Lagipula masyarakat pun enggan berkomentar banyak-banyak. Kita memang bangsa pelupa dan pemaaf, dan selamanya memang akan seperti itu. Kalaupun tidak ingin disebut pelupa, itu berarti kita tidak berkomentar karena malas tahu. Buat apa mencari tahu banyak, kalau semua informasi sudah tersaji di depan TV. TV telah menjadi sumber informasi terbesar dalam hidup kita. Masalahnya adalah apakah kita benar-benar memperhatikan?

Kita semua harus tahu bahwa semua peristiwa di TV hanya akan menjadi isu pada satu momen saja, tidak selamanya menjadi bahan perbincangan. Dan layak tidaknya menjadi bahan perbincangan itu yang menentukan adalah stasiun TV-nya. Kapan momen dimulai, dipertahankan dan lalu berakhir. Lagipula siapa yang peduli kalau sudah tidak lagi ditayangkan TV?

Inilah yang menyebabkan diskusi tentang masalah dan solusi hanyalah rangkaian waktu yang telah disetting, tidak pernah tuntas. Begitu semua keriuhan berakhir, maka aplikasi di lapangan hanya berharap dari kemurahan hati sang pengambil kebijakan. Apa mau dilanjutkan atau dibiarkan begitu saja hingga ada kejadian selanjutnya.

Cukup hentikan pemberitaannya, semua pasti beres..

Advertisements

Negara Panoptikon: Sebuah Kritik

Negara panoptikon hanya menciptakan masyarakat patuh, bukan masyarakat sadar. Patuh disini bermakna bahwa masyarakat memandang hukum atau aturan yang berlaku dalam mekanisme ‘reward & punishment’, dalam perspektif benar-salah. Padahal sejatinya, hukum haruslah dipandang sebagai sebuah level kesadaran. Manusia yang sadar hukum akan berperilaku tidak hanya sekedar dalam perspektif benar-salah, namun telah berada pada tataran baik-buruk. Manusia yang sadar hukum akan mampu menggerakkan atau mengorganisasikan segala tingkah lakunya dalam memilih dan menentukan secara sadar mana yang baik, yang harus dilakukan dan mana yang buruk, yang tidak semestinya dilakukan.

Negara panoptikon mengkerdilkan hakikat manusia sebagai insan independen dan bertanggungjawab yang dianugerahi kehendak bebas. Kehendak bebas disini berarti bebas dalam memutuskan segala pilihan berdasarkan tingkat kematangan rasional, emosional dan spiritualitasnya. Manusia dalam negara panoptikon hanya dipandang sebagai individu-individu yang mempunyai kecenderungan untuk melanggar aturan, sehingga harus diawasi terus menerus agar bisa tertib. Ini jelas-jelas mengkerdilkan hak asasi manusia sebagai manusia yang merdeka.

Aksi Mahasiswa Kini: antara Simpati dan Resistensi

Mahasiswa adalah agen perubahan, agen kontrol sosial, dan agen kekuatan moral. Tiga fungsi inilah yang menghantarkan eksistensi mahasiswa sebagai kumpulan individu muda yang berjiwa kritis dan membebaskan menjadi sebuah anugerah yang patut disyukuri oleh masyarakat. Eksistensi disini maknanya bukan hanya sekedar ada, namun memberi manfaat. Eksistensi inilah yang selama ini telah berhasil tercatat dalam lembar-lembar sejarah sebagai garda depan (front line) dalam pendobrak kemapanan sebuah era.

Era boleh saja berganti, namun bara semangat mahasiswa harus tetap terjaga. Bagai tongkat estafet, jiwa dan semangat mahasiswa harus tetap diturunkan dari generasi ke generasi. Kondisi idealnya, semangat ini harusnya tidak boleh tercederai oleh apapun, tidak boleh meredup walau sedikitpun. Namun, dunia dan isinya tidaklah statis, lompatan-lompatan perubahan selalu saja terjadi. Begitupun mahasiswa sebagai salah satu entitas yang berada di dalamnya. Konsekuensi logisnya adalah selalu terjadi pergesakan antara idealisme dan kepentingan dalam tubuh mahasiswa yang berlangsung terus menerus.

Simpati & Resistensi
Simbiosis mutualisme antara mahasiswa dan rakyat adalah sebuah fondasi, dimana bagi mahasiswa, simpati dan kepercayaan masyarakat sebagai perekatnya yang harus benar-benar dijaga utuh agar tetap kokoh. Ini dilakukan demi menjaga independensi mahasiswa dalam perjuangannya. Bahwa perjuangan mereka harus benar-benar mewakili rakyat, demi kemaslahatan rakyat. Karena mahasiswa adalah corong suara masyarakat. Merekalah megafon-megafon yang sanggup menjembatani suara rakyat menuju parlemen. Merekalah sang penggarap tanah air tanpa penindasan. Merekalah penghuni bangsa yang gandrung keadilan. Merekalah narator-narator yang sanggup membahasakan kegelisahan dan nasib rakyat sebagai bahasa kebenaran. Di lidah merekalah suara-suara rakyat dititipkan. Sehingga hubungan harmonis antara mahasiswa dan rakyat merupakan syarat mutlak dalam setiap aksi mahasiswa.

Namun kenyataan yang ada saat ini, percik-percik resistensi oleh rakyat mulai terlihat. Rakyat saat ini sudah menunjukkan gejala penolakan terhadap berbagai aksi mahasiwa yang terjadi. Lihat saja kondisi yang ada sekarang, mahasiswa melawan rakyat terjadi dimana-mana. Lalu sebenarnya posisi mahasiswa ada dimana sebenarnya? Pertanyaan inilah yang harus menjadi otokritik bagi mahasiswa. Apakah atau siapakah yang salah? Tujuan aksi mahasiswa harus dipertanyakan kembali, apakah benar-benar membela rakyat atau karena ada alasan lain diluar itu. Banyak kepentingan, baikĀ  itu pribadi maupun kepentingan kelompok yang dihadirkan secara implisit dalam setiap aksi, bertopeng membela kepentingan rakyat. Inilah yang harus diberangus demi mengembalikan hakikat perjuangan mahasiswa kembali ke kedudukan semulanya.

Epilog
Sejatinya mahasiswa adalah identitas mulia yang harus suci dari kepentingan-kepentingan. Mahasiswa adalah individu-individu yang tercerahkan. Itu yang tidak disadari oleh mayoritas mahasiswa. Mereka tidak menyadari hakekat sejati dari identitasnya sebagai mahasiswa. Hal inilah yang menyebabkan aksi-aksi masa kini menjadi kehilangan makna dan tujuan aslinya. Yang tampak adalah egoisme dan vandalisme. Ataukah memang harus muncul istilah intelektual preman?