Aksi Mahasiswa Kini: antara Simpati dan Resistensi

Mahasiswa adalah agen perubahan, agen kontrol sosial, dan agen kekuatan moral. Tiga fungsi inilah yang menghantarkan eksistensi mahasiswa sebagai kumpulan individu muda yang berjiwa kritis dan membebaskan menjadi sebuah anugerah yang patut disyukuri oleh masyarakat. Eksistensi disini maknanya bukan hanya sekedar ada, namun memberi manfaat. Eksistensi inilah yang selama ini telah berhasil tercatat dalam lembar-lembar sejarah sebagai garda depan (front line) dalam pendobrak kemapanan sebuah era.

Era boleh saja berganti, namun bara semangat mahasiswa harus tetap terjaga. Bagai tongkat estafet, jiwa dan semangat mahasiswa harus tetap diturunkan dari generasi ke generasi. Kondisi idealnya, semangat ini harusnya tidak boleh tercederai oleh apapun, tidak boleh meredup walau sedikitpun. Namun, dunia dan isinya tidaklah statis, lompatan-lompatan perubahan selalu saja terjadi. Begitupun mahasiswa sebagai salah satu entitas yang berada di dalamnya. Konsekuensi logisnya adalah selalu terjadi pergesakan antara idealisme dan kepentingan dalam tubuh mahasiswa yang berlangsung terus menerus.

Simpati & Resistensi
Simbiosis mutualisme antara mahasiswa dan rakyat adalah sebuah fondasi, dimana bagi mahasiswa, simpati dan kepercayaan masyarakat sebagai perekatnya yang harus benar-benar dijaga utuh agar tetap kokoh. Ini dilakukan demi menjaga independensi mahasiswa dalam perjuangannya. Bahwa perjuangan mereka harus benar-benar mewakili rakyat, demi kemaslahatan rakyat. Karena mahasiswa adalah corong suara masyarakat. Merekalah megafon-megafon yang sanggup menjembatani suara rakyat menuju parlemen. Merekalah sang penggarap tanah air tanpa penindasan. Merekalah penghuni bangsa yang gandrung keadilan. Merekalah narator-narator yang sanggup membahasakan kegelisahan dan nasib rakyat sebagai bahasa kebenaran. Di lidah merekalah suara-suara rakyat dititipkan. Sehingga hubungan harmonis antara mahasiswa dan rakyat merupakan syarat mutlak dalam setiap aksi mahasiswa.

Namun kenyataan yang ada saat ini, percik-percik resistensi oleh rakyat mulai terlihat. Rakyat saat ini sudah menunjukkan gejala penolakan terhadap berbagai aksi mahasiwa yang terjadi. Lihat saja kondisi yang ada sekarang, mahasiswa melawan rakyat terjadi dimana-mana. Lalu sebenarnya posisi mahasiswa ada dimana sebenarnya? Pertanyaan inilah yang harus menjadi otokritik bagi mahasiswa. Apakah atau siapakah yang salah? Tujuan aksi mahasiswa harus dipertanyakan kembali, apakah benar-benar membela rakyat atau karena ada alasan lain diluar itu. Banyak kepentingan, baik  itu pribadi maupun kepentingan kelompok yang dihadirkan secara implisit dalam setiap aksi, bertopeng membela kepentingan rakyat. Inilah yang harus diberangus demi mengembalikan hakikat perjuangan mahasiswa kembali ke kedudukan semulanya.

Epilog
Sejatinya mahasiswa adalah identitas mulia yang harus suci dari kepentingan-kepentingan. Mahasiswa adalah individu-individu yang tercerahkan. Itu yang tidak disadari oleh mayoritas mahasiswa. Mereka tidak menyadari hakekat sejati dari identitasnya sebagai mahasiswa. Hal inilah yang menyebabkan aksi-aksi masa kini menjadi kehilangan makna dan tujuan aslinya. Yang tampak adalah egoisme dan vandalisme. Ataukah memang harus muncul istilah intelektual preman?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s