Negara Panoptikon: Sebuah Kritik

Negara panoptikon hanya menciptakan masyarakat patuh, bukan masyarakat sadar. Patuh disini bermakna bahwa masyarakat memandang hukum atau aturan yang berlaku dalam mekanisme ‘reward & punishment’, dalam perspektif benar-salah. Padahal sejatinya, hukum haruslah dipandang sebagai sebuah level kesadaran. Manusia yang sadar hukum akan berperilaku tidak hanya sekedar dalam perspektif benar-salah, namun telah berada pada tataran baik-buruk. Manusia yang sadar hukum akan mampu menggerakkan atau mengorganisasikan segala tingkah lakunya dalam memilih dan menentukan secara sadar mana yang baik, yang harus dilakukan dan mana yang buruk, yang tidak semestinya dilakukan.

Negara panoptikon mengkerdilkan hakikat manusia sebagai insan independen dan bertanggungjawab yang dianugerahi kehendak bebas. Kehendak bebas disini berarti bebas dalam memutuskan segala pilihan berdasarkan tingkat kematangan rasional, emosional dan spiritualitasnya. Manusia dalam negara panoptikon hanya dipandang sebagai individu-individu yang mempunyai kecenderungan untuk melanggar aturan, sehingga harus diawasi terus menerus agar bisa tertib. Ini jelas-jelas mengkerdilkan hak asasi manusia sebagai manusia yang merdeka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s