Sartre dan Pernikahan Teman

Siang ini harusnya jadi siang seperti siang kemarin. Kau kan lihat sendiri ramalan cuaca di aplikasi Accu Weather tertulis apa. Cerah berawan selama seminggu. Tapi ini bukan masalah cuaca yang dibahas, cukuplah hal itu menjadi urusan orang Inggris.

Sebuah pesan tetiba masuk ke kotak pesan singkat. Huff.. Hari gini masih saja pakai SMS. Model SMS memang telah mulai dilupakan secara berjamaah oleh masyarakat android yang memiliki kuota berlimpah tanpa henti. Termasuk saya. Tapi berhubung pesan penting dari manusia nyata, jadi harus dibalas.

“Jam berapa ke acara?” tulisan di layar terbaca.

“Segera menuju rumahmu” balasku cepat. Memakai jempol tangan kalau kau mau tahu lebih detail.

Sepintas pertanyaan dan jawaban memang tidak nyambung. Tapi yah, begitulah hidup. Terkadang ada hal-hal yang hanya harus kau terima tanpa perlu dipertanyakan.

Percakapan seperti itu sejatinya muncul dalam konteks ingin menghadiri acara pernikahan teman. Kau taulah, konvensi sosial kesetiakawanan bilang apa. Teman angkatan wajib hadir. Belum cek keshahihanya di kitab fiqih sih. Tapi yah mau diapa, namanya juga teman. Jadi kalau dibilang wajib datang, yah wajib. Dengan syarat tapinya, sedia amplop. Wajib kok pake tapi? Yah, namanya juga teman.

Jadi dengan selesainya rangkaian pengiriman SMS balasan ke si penanya tadi, maka dimulailah prosesi untuk persiapan kehadiran ke tempat acara.

Seperti yang sudah diduga, 0,0000001% hadirin adalah teman angkatan. Selebihnya merupakan kolega orang tua sang mempelai. Kadang saya membatin, ini acara siapa sebenarnya. Anak menikah tapi kok yang diudang lebih banyak kolega orang tua? Bahkan kadang, kolega dari saudara orang tua si mempelai pun turut diudang. Puluhan undangan pula. Padahal terkadang kolega dari saudara orang tua tersebut dan orang tua si mempelai tidak saling mengenal. Mubazir sih ya. Tapi persetanlah. Acara bahagia harusnya diisi dengan pikiran-pikiran bahagia. Tidak usah dipikirkan yang aneh-anehnya. Nanti seminggu setelahnya barulah digosipi. BOOM.

Masalah siapa saja yang diudang sebenarnya bukan urusanmu. Misimu sederhana, bersihkan meja dari tumpukan makanan yang menggoda. Itu saja. Tapi namanya acara yang melibatkan manusia banyak dalam sebuah area yang sempit, akan ada saja masalahnya. Masalah paling utama adalah adanya keriskanan bila dalam acara pernikahan teman seperti ini terdapat mantan yang hadir. Yah, yang namanya mantan pastinya begitu yah. Bagai pepatah, rumput tetangga yang menjadi lebih hijau bila sudah menjadi rumput tetangga.

Masalah seperti ini sebenarnya sudah jauh-jauh hari diperingatkan oleh Jean-Paul Sartre. Beliau berkata, “Di dalam sepakbola, segalanya menjadi lebih rumit dengan hadirnya kesebelasan lawan”. Nah lho, hubungannya apa bawa-bawa sepakbola dan Sartre? Jumadi..Jumadi.. Kamu harusnya paham dengan maksud dari Bapak Sartre tersebut. Kalau belum paham, ya sudah. Maknanya adalah bahwa di dalam acara pernikahan teman, segalanya menjadi lebih rumit dengan hadirnya mantan. Apalagi mantan yang ini sudah berpasangan.

Sial.

Percepat makan dan mari kita pulang, kawan!