Kota dibalik Pagar Tinggi

Seperti ada yang salah dengan kota ini. Apabila melewati jalan-jalan besar tampaklah deretan bangunan-bangunan tinggi berjajar, membentuk rupa-rupa yang megah, bersih nan elegan. Membentuk pagar artifisial. Amboi, indah-indah bentuknya.

Namun cobalah suatu waktu tengok ke baliknya. Masuklah ke jalan-jalan kampungnya. Alangkah beda nian. Kumuh, kotor, reot mungkin sudah merupakan serangkai padanan halus untuk menggambarkan kondisi sebenarnya.

Rupanya selama ini, bangunan-bangunan tinggi di tepi jalan tersebut mempunyai fungsi lain yaitu untuk menyelubungi wajah borok dibaliknya.

Singkaplah tabir itu. Kota akan menunjukkan padamu siapa dirinya yang sebenarnya.

Layaknya seseorang yang membangun sebuah tempat pembuangan sampah yang dikeliling oleh pagar tinggi yang megah, dengan langgam klasik Romawi. Siapapun yang hanya lewat didepannya tanpa pernah menengok ke dalamnya, pasti akan mengagumi mahakarya tersebut, tanpa pernah tahu ada apa dibaliknya. Mungkin kalau ia tahu, segalnya pasti akan berbeda. Persepsi manusia memang tergantung pengalaman indrawinya. Seperti itulah kota-kota kita dibentuk, cuma untuk memanjakan mata orang-orang yang hanya ingin melihat apa yang ingin mereka lihat.

Pantaslah pemimpin-pemimpin kita selalu mengatakan kotanya semakin berkembang maju, menuju kota dunia. Rupa-rupanya yang dilihatnya cuma sampai pagarnya, sebatas tampilan depannya saja.

Padahal yang disebut kota bukanlah sebatas deretan mahakarya megaproyek sepanjang jalan protokol. Justru itulah yang menjadi tabir yang menghalangi visual untuk mendapatkan pengalaman melihat dan merasakan kota secara utuh dan jujur.

Yang disebut kota adalah suatu formasi utuh yang terdiri atas keharmonisan manusia dan lingkungan, keselarasan pembangunan infrastruktur dan suprastruktur, serta keseimbangan kualitas fasade dan isi.

Oleh karena itu, selayaknya pemimpin kota adalah pemimpin yang memandang kota tidak hanya sebatas menggunakan indra saja, namun juga melalui empati.

Advertisements

Pergi ke Mal: Anestesi untuk Manusia Kota

Anestesi merupakan istilah kedokteran untuk tindakan menghilangkan rasa sakit pada pasien. Di perkotaan, pasiennya adalah manusia-manusia kota. Bagaimana tidak, setiap hari mereka harus berjibaku dalam kemacetan dan sergapan polusi udara. Orang-orang tersebut mungkin secara fisik tidak sakit, tapi secara psikis pastinya mengalami tekanan kejiwaan. Kalau masih tidak percaya cobalah cek timeline twitter. Frustasi diumbar dimana-dimana.

Untuk itulah mal hadir di tengah-tengah situasi yang memuakkan terebut. Ia bagaikan sang avatar yang datang untuk membebaskan semua. Liatlah di Jakarta, kota dengan 173 mal, yang dinobatkan sebagai kota dengan jumlah mal terbanyak di dunia. Itu benar-benar menggambarkan ciri kota sakit (sesuai pernyataan Enrique Penalosa dan Syafi’i Maarif).

Liatlah, betapa dengan jumlah mal sebanyak itu hampir semuanya selalu penuh. Hal ini mencerminkan betapa jiwa-jiwa tersebut telah terserang penat akut stadium tinggi. Manusia-manusia tersebut butuh aktivitas yang dapat membius dan melepaskan sejenak hujaman penat sehari-hari.


Oleh karena itu, malam ini, esok, lusa dan seterusnya, ayo kita ke mal..