2014: Tahun Polusi Visual

2014 akhirnya tiba. Mesin-mesin politik sudah mulai mengalami peningkatan panas. Jalan-jalan telah berubah menjadi semacam galeri kontemporer yang menyajikan berbagai macam potret wajah manusia asing yang insyaALLAH telah siap dan ikhlas berjuang untuk menjadi perwakilan suara-suara masyarakat. Istilah kerennya, sebagai penyambung lidah rakyat.

Beragam cara ditempuh agar wajah mereka terekam lekat di memori rakyat. Pohon-pohon pun jadi saksinya. Betapa tidak, sekujur tubuhnya harus rela menahan perih akibat hujaman paku yang secara periodik hadir tiap 5 tahun sekali. Entah bagaimana nilai mata pelajaran wawasan lingkungan para manusia-manusia tersebut sewaktu sekolah dulu.

Adapun itu, sudah menjadi sifat manusia untuk tidak pernah puas. Masih banyak yang merasa potretnya terlampau kecil dan tersembunyi dari pandangan pengendara di jalan. Oleh karena sifat manusia yang satu ini, patutlah usaha percetakan baliho bersyukur, soalnya harga cetak baliho kan hitungannya per meter. Semakin besar balihonya, semakin besarlah untungnya.

Tidak hanya soal ukuran baliho, demi membuat kepala para pengendara di jalan menoleh dan terpesona pada wajah-wajah para calon penyambung lidah masyakarat tersebut, ada satu hal lagi yang harus dilakukan dimana kali ini memakai bantuan program desain drafis. Wajah yang banyak kurangnya bisa dibuat cakep, bersinar, mulus dan kharismatik cuma dengan klik disana-sini, tentunya sesuai permintaan.

Kumpulan Wajah yang meneror ruang publik kota

Ruang publik kota adalah ruang bersama yang dikelola negara. Kita sudah sering mendengar bahwa kualitas manusia perkotaan tergantung pada ruang publiknya, baik secara kualitas maupun kuatitas. Namun liatlah di Indonesia, berkat asas komersialisasi dan liberalisasi, maka ruang-ruang publik telah dijejali oleh polusi visual.

sampah visual everywhere

Ruang publik memang selalu dianggap pasar yang tepat untuk menjajakan pencitraan. Adapun kalau selama ini, polusi visual tersebut hanya berkutat pada merek-merek dagang, maka di tahun 2014 ini slot-slot kosong yang masing tersedia di ruang-ruang publik akan diisi oleh kumpulan rupa-rupa wajah 5 tahunan yang ingin terjun ke dunia politik. Masyarakat pun tidak bisa berbuat banyak, toh semua telah melewati prosedur perizinan (entah legal atau ilegal).

Namun sekedar saran, ada baiknya masyarakat mulai menyadari hak-haknya sebagai pengguna ruang publik. Mungkin bisa dimulai dengan membaca pasal 17 ayat (1) Peraturan KPU No. 15 tahun 2013 yang menyatakan:

“Alat peraga kampanye juga tidak ditempatkan di lokasi pelayanan kesehatan, gedung milik pemerintah, lembaga pendidikan (gedung dan sekolah), jalan-jalan protokol, jalan bebas hambatan, sarana dan prasarana publik, taman dan pepohonan”.

Advertisements

Hadiah Tuhan di Musim Hujan

Bagi wilayah di Indonesia, bulan Desember merupakan bulan untuk musim pengujan. Lihat saja, saban sore kumpulan Cumulus abu-abu itu telah merajai langit, menanti ketetapan dari Sang Pemilik Hujan untuk berlabuh di tanah yang mana, lalu turun membentuk arsiran-arsiran jernih yang memenuhi seantero cakrawala.

Pada masa lalu, kebiasaan sewaktu kecil, bila hujan sudah turun dengan deras, hampir semua anak-anak baik perempuan maupun laki-laki secara serentak bergerak tanpa aba-aba terjun ke arena untuk bermain di luar rumah. Tanpa menghiraukan kecemasan sang Bunda yang selalu memperingati dan was-was menanti di rumah, anak-anak itu dengan riang bermain habis-habisan tanpa perduli menjadi kotor ataupun menggigil akibat suhu yang dingin. Bayangkan saja, mereka sampai-sampai bermain di selokan! Ya, selokan bahkan menjadi arena favorit untuk bermain luncur-luncuran disebabkan karena kemiringannya yang sempurna yang membuat air dalam dimensi ruangnya dapat mengalir turun dengan deras. Tapi tentunya, selokan yang dimaksud disini berbeda dengan selokan-selokan di kota-kota besar yang airnya menggenang dan tidak mengalir, bahkan telah berubah menjadi pekat dan berbau busuk. Bukan seperti itu.

Mereka terus-terusan bermain sembari menanti hujan selesai. Lalu, bila awan telah menutup keran-keran pancurannya dari langit, merekapun bergegas mengakhiri permainan dan pulang ke rumah. Sampai di rumahpun mereka tak perlu khawatir, bunda telah siap menunggu di teras rumah sembari membawa handuk dan air bilasan agar katanya tidak mendapat sakit kepala. Sungguh, memori-memori seperti itulah yang menghiasi masa kecil mereka.

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Kini, anak-anak kecil itu telah tumbuh menjadi dewasa. Telah tumbuh menjadi wajah-wajah manusia dewasa yang selalu menggerutu bila turun hujan. Tak ada lagi sambutan hangat terhadapnya seperti masa lalu. Sebab hujan katanya telah menghalanginya untuk pergi ke kantor, menghalanginya untuk menjemur pakaian, membuatnya cemas akan banjir, membuatnya cemas akan penyakit serta masalah-masalah lainnya.

Rupanya kini mereka telah lupa. Lupa bahwa Tuhan selalu mengiriminya hadiah di musim hujan. Hadiah terbesar dan terbaik yang telah terlupakan seiring bertambahnya usia. Hadiah itu bernama hujan.

NB: Tulisan ini pernah diposting di Kompasiana

Menjernihkan Kasus Penggusuran

Stren Kali Jagir, Surabaya

Gagasan Hukum

Oleh M Faishal Aminuddin

Saat penggusuran di setren kali beberapa waktu lalu, salah seorang teman mengirimkan pesan pendek. ”Rumah kami digusur, kami sekarang tidur di tepi jalan dan tidak tahu mau ke mana. Minta doanya.”

Pesan itu membuat saya trenyuh. Betapa tidak, mungkin saya adalah salah seorang di antara jutaan orang yang ada di Surabaya yang tidak bisa menghentikan buldoser pemkot pada dini hari itu yang menyapu seluruh permukiman di bantaran Kali Jagir sepanjang 2,5 kilometer tersebut. Bagi korban, pemerintah adalah musuh yang nyata dan menghancurkan harapan mereka serta mencerabut akar kehidupan yang sudah dijalani selama berpuluh tahun.

Pemerintah kota mempunyai beragam alasan untuk melaksanakan kebijakannya. Sebagai manusia, pasti wali kota juga tidak tega. Sebagai pribadi pun, dia mungkin saja akan berbelas kasihan. Tetapi, sebagai eksekutif yang harus mempertimbangkan lebih banyak kepentingan publik, dia harus mengikuti aturan main yang ada. Setidaknya, wali kota menyadari bahwa menggusur tanpa memberikan solusi justru…

View original post 731 more words

Rumah Susun, Rumah Masa Depan (?)

Sore itu wajah Parmin nampak cemas. Kegaduhan dari suara teriakan dan derap kaki-kaki yang berlarian liar disekitarnya membuat ia tidak bisa berpikir tenang. Asap yang mengepung ditambah hawa panas yang semakin meningkat disekelilingnya benar-benar membuat mata dan kulitnya menjadi perih. Ia mencoba menajamkan pandangan dan pikirannya kembali. Tidak ada gunanya memaki dan mengutuk pada kodisi seperti ini. Ia menerjang asap, mencoba mengumpulkan barang-barang yang dianggapnya punya prioritas utama yang harus diselamatkan. Ia melihat tetangga-tetangga yang juga berlarian menyelamatkan nyawa dan harta benda. Tidak adalagi namanya berpikir sehat, semua yang dilakukan hanyalah terdorong oleh naluri mempertahankan nyawa. Sore itu benar-benar merupakan hari yang akan selalu diingatnya.

Tanggal 26 Agustus 1982 tepatnya, sebuah kebakaran dari Supermarket Horizon di bilangan Jl. Urip Sumoharjo, Surabaya telah mengubur segalanya, sebab kebakaran bangunan itu tidak hanya melahap dirinya sendiri, namun apinya melahap pula 86 rumah yang berdiri disekitarnya. Rumah Parmin salah satunya. Ia merupakan salah seorang warga kampung yang bertempat tinggal tepat di samping bangunan Supermarket yang terbakar itu, sebuah perkampungan padat dan kumuh, menurut istilah Pemerintah Kota saat itu. Kebakaran itu tidak hanya mengubur fisik rumahnya saja, tetapi mengubur pula segala kenangan-kenangan masa kecilnya di atas tanah itu.

***

Saya barusan mengenalnya. Ia tidak lagi telalu fasih mengingat tiap detail peristiwa yang terjadi 31 tahun lalu itu. Saya kebetulan berkesempatan bercakap-cakap dengannya di Rusunawa Urip Sumoharjo, sebuah rumah susun yang dibangun tepat diatas tanah bekas kampungnya dulu. Sebuah rumah susun yang telah ditinggalinya sejak tahun 1985, sebagai realisasi janji pemerintah kota untuk menyediakan sarana tempat tinggal bagi dirinya dan warga korban kebakaran lainnya. Rumah susun itu dibangun sebagai hunian masa depan bagi mereka, sebagai upaya untuk mencegah munculnya kembali permukiman kumuh di wilayah itu.

Bagi mereka, jelas hal tersebut sangat sulit diterima. Kondisi masyarakat yang terbiasa hidup secara komunal dan berderet secara horizontal tidak serta merta secara cepat mampu beradaptasi untuk tinggal pada hunian vertikal dengan ruang seragam berukuran 3mx7m. Gegar budaya seperti aktivitas naik turun tangga, perilaku membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan, dan dibatasinya kesempatan untuk mengekspresikan tampilan hunian sesuai keinginan sendiri merupakan sekelumit problem yang harus dihadapi.

Awalnya memang tidak mudah untuk membiasakan itu semua. Tapi pada akhirnya perlahan-lahan warga mampu mengerti bahwa dengan cara seperti itulah mereka bisa menjadi masyarakat yang lebih baik sehingga statusnya dapat terangkat pada tatanan sosial masyarakat kota. Mereka tidak bisa lagi kembali pada kondisi masa lalu dan terjebak dalam zona nyaman kekumuhan.

Rusun Urip Sumoharjo, Surabaya

Rumah Susun, Hunian Masa Depan?

Pembangunan rumah susun memang didasarkan pada respon untuk menyediakan hunian yang layak bagi masyarakat perkotaan masa depan. Bagi saya, solusi diatas merupakan sebuah langkah yang tepat. Dimana harus disadari, lahan di perkotaan kuantitasnya semakin menipis. Hal ini dikarenakan bertumpuk-tumpuknya fungsi yang harus diemban oleh sebuah kota mulai dari pemerintahan, perdagangan, pendidikan, bisnis, jasa, hiburan, hingga militer, telah membuat lahan untuk permukiman semakin tergerus dan harus berkompromi dengan fungsi-fungsi kota lainnya. Sementara disisi lain, luasan lahan tidak pernah bertambah, sehingga mau tidak mau pembangunan saat ini harus diarahkan pada pembangunan secara vertikal.

Namun, pembangunan vertikal pada sektor permukiman tidak semudah pada pembangunan vertikal untuk fungsi perdagangan atau perkantoran misalnya. Ada faktor manusia yang wajib dipertimbangkan matang-matang, mulai dari sisi sosiologis hingga psikologis. Kita tak mau peristiwa Pruitt-Igoe tahun 1968 yang disebut-sebut sebagai hari kematian arsitektur modern terulang kembali. Manusia bukanlah sejenis makhluk yang butuh temapt tinggal hanya berupa ruang berbentuk kotak sebagai sarana berteduh dari sengatan matahari dan deraian hujan.

Menurut hierarki Maslow, rumah harus mampu memenuhi kebutuhan penghuninya mulai dari kebutuhan fisiologi, keamanan, sosial, status hingga aktualisasi diri. Selanjutnya, defisini rumah yang layak ditegaskan dalam Habitat Agenda paragraf 60 yang mendefinisikan bahwa “rumah layak” terkait dengan: 1) kelayakan privasi , 2) pencapaian atau akses fisik , 3) keamanan, 4) kepemilikan , 5) kestabilan dan ketahanan struktur bangunan , 6) kecukupan pencahayaan , 7) pemanasan (pendinginan bagi kita) dan penghawaan , 8) prasarana dasar seperti ketersediaan air minum, sanitasi dan pengelolaan air buangan, 9) kualitas lingkungan dan faktor kesehatan yang mendukung , 10) kelayakan dan aksesibilitas lokasi yang memperhatikan pencapaian lokasi kerja dan sarana, dengan biaya terjangkau.

Intinya, membangun rumah sebagai hunian yang layak tidaklah mudah. Apalagi kalau pembangunannya hanya diserahkan kepada pemerintah sebagai penyedia (provider). Jelas hal itu tidak akan menjadi baik. Pemerintah harus menyadari bahwa, meminjam perkataan John Turner, bahwa rumah yang baik itu bukan karena baik tampilannya tetapi lebih kepada baik secara fungsinya, yaitu mampu membuat penghuni didalamnya mengembangkan segala potensi untuk menjalankan aktivitasnya baik dalam sektor ekonomi maupun sosial (house is not what it is but what it does).

Sehingga dalam membangun sebuah rumah atau perumahan, pemerintah harus mampu mengakomodasi dan melibatkan masyarakat dalam penerapannya. Itulah yang menjadi fondasi perencanaan partisipatif, yang menjadi trend perencanaan permukiman saat ini.

Penghancuran flat Pruitt-Igoe

Perencanaan Rumah Susun yang Partisipatif

Dekade 1970-an adalah awal kemunculan konsep pemberdayaan dan berkembang seiring kemajuan zaman hingga akhir abad ke-20. Konsep pemberdayaan merupakan bagian yang menyatu dengan aliran–aliran yang muncul pada paruh abad ke-20. Hal ini tidak lepas dari peristiwa Pruitt-Igoe yang disebut-sebut sebagai kegagalan arsitektur modern. Perencanaan partisipatif seringkali disebut pula perencaaan demokratis karena menjadikan masyarakat sebagai aktor utama dalam perencanaan.

Rusun Urip Sumoharjo adalah salah satu contohnya. Mulanya dibangun dengan menggunakan desain dari Pemerintah Kota dan 20 tahun kemudian mengalami degradasi kualitas sehingga kembali kumuh. Lalu, pada tahun 2003 direvitalisasi (atau dalam istilahnya re-settlement), yang kali ini melibatkan warga penghuni rusun dalam proses perencanaan untuk menghasilkan desain hunian yang sesuai dengan kebutuhan dari penghuinya sendiri. Maka pada tahun 2005, rusun Urip sumoharjo resmi kembali ditempati, yang kali ini lebih membuat puas warga penghuninya. Bukan semata karena bentuknya yang baru namun karena peran dan kontribusi mereka dihargai dalam pembangunan kali ini.

Hal inilah yang menjadikan rasa memiliki (sense of belonging) rumah susun ini makin kuat melekat pada masing-masing penghuninya. Perencanaan seperti inilah yang memanusiakan manusia, memberdayakan manusia, mengeluarkan potensi manusia, serta meletakkan manusia sebagai titik sumbu perencanaan. Pada akhirnya, melalui perencanaan partisipatif, orang-orang seperti Parmin dan teman-temannya dapat dihargai kontribusinya dan diakui kapasitasnya dalam menentukan keinginan hidupnya sendiri.

***

Kini, Kota Surabaya makin berpacu melaju untuk menjadi kota terbaik di Indonesia. Orang-orang seperti Parmin, hanyalah salah satu konstanta diantara jutaan warga Surabaya yang tidak banyak berharap muluk-muluk dalam hidupnya. Mereka hanya ingin, apapun perubahan yang terjadi pada wajah kota Surabaya, tidak mencerabut hak-haknya sebagai warga masyarakat yang ingin mendapat tempat tinggal yang aman, nyaman, layak, serta mendapat jaminan kepastian hidup di tanah kelahirannya, Kota Surabaya.

Selingan Random: Sebentuk SMS di Hari Minggu (Kisah Fiktif)

Pagi ini aku bangun siang. Entah seperti apa aku harus mengistilahkannya. Sebenarnya hari ini aku berencana bangun sore. Kamu taulah, hari ini hari Minggu. Seharusnya kamu bisa lebih mengerti keadaanku. Kita kan sama-sama mahasiswa. Tapi smsmu siang ini benar-benar menjadi alarm untuk nyenyak tidurku. Menghempaskan segala mimpi indahku tentang Nabilah JKT48 yang secara gaib muncul di depan kamar kosanku untuk mengantarkan pakaianku yang telah selesai di-laundry. Ah sudahlah.

Isi smsmu sebenarnya tidak panjang. Tidak seperti teks khutbah khatib salat Jumat. Smsmu cuma berbentuk 2 kata. “Mas, Aku hamil”. Sepintas ku kira itu sms nyasar dari mama yang selalu minta pulsa. Sejenis trik baru karena semua orang sudah tahu modus operandinya. Tapi itu benar-benar berasal darimu. Aku tahu karena di layar HPku tertera namamu, bukan hanya berbentuk nomor. Seketika kepalaku langsung dihujami palu gaib. Kamu hamil? Itu kata batinku. Kamu hamil?? Teriak batinku. KAMU HAMIL??? Itu bukan aku, itu suara TV sebelah, entah siapa yang putar FTV di saat seperti ini. Dialog FTV yang aneh.

Aku pun tertegun dan mencoba berpikir tenang. Pernahkah aku berniat menghamilimu? Rasa-rasanya tidak. Aku bukan kucing atau ayam. Setidaknya sampai saat ini, aku merasa masih berwujud manusia. Kubaca kembali perlahan-lahan smsmu. Tanganku gemetar, badanku gemetar. Kumatikan kipas angin. Ah, anginnya terlalu kencang, membuat badan gemetar. Aku mencoba kembali berpijak ke dunia dan berpikir rasional, apa sejatinya makna smsmu. Kenapa kalimat smsmu tiba-tiba menohok seperti ini, tidak seperti sms-smsmu yang biasanya, yang menanyakan sudah makan atau belum atau sudah tidur atau belum. Smsmu biasanya seperti itu, aku curiga itu semacam sms template yang sudah kau simpan di HPmu. Seharusnya kau lebih kreatif kalau bertanya. Kamu sudah mahasiswa.

Pikiranku benar-benar tak bisa diajak berpikir sehat. Ada baiknya aku langsung bertanya kepadamu. Kuambil baju, kupakai lalu kulepas lagi. “Harusnya saya mandi dulu”, itu kata hatiku.
Setelah beres, kupacu sepeda motorku menuju rumahmu. Entah kalimat apa yang harus kuucapkan padamu. Apakah harus to-the-point atau seperti apa. Ah, kamu benar-benar membuat hatiku menjadi kontroversi. Tiba-tiba saya teringat Vicky. Terima kasih Vicky, kata-katamu benar-benar bermanfaat untuk menggambarkan situasi yang terjadi saat ini.

(cerita ini sebenarnya masih berlanjut, tapi saya malas, jadi saya akhiri begini saja)

Seleksi Alam Perkotaan

Pada tanggal 18 Juli 2013, Detroit akhirnya bangkrut. Mekanisme seleksi alam benar-benar tidak pandang bulu. Tidak tanggung-tanggung, korbannya kali ini adalah sebuah kota. Kota yang dahulu pernah berada pada puncak kegemilannya berkat industri otomotif. Kini, kota Detroit telah bangkrut sebagai akibat tidak mampu beradaptasi dan berinovasi mengikuti kebutuhan dan perkembangan dunia. Kalah bersaing dengan dengan macan otomotif asia, Jepang dan Korea.
hiroshima-detroit

Solusi Semua Masalah Ada Pada TV

Masalah yang sama terulang kembali. Bencana alam maupun bencana kemanusiaan. Kalaupun berbeda itu hanya dari jumlah korbannya. Kita memang tidak pernah belajar dari kesalahan. Hanya memandang masalah secara pragmatis. Kalaupun dicari jalan keluarnya, pasti tanpa mencari dan melihat apa akar penyebab masalahnya. Kalaupun ada yang mencari, pasti dipikir akan membuang-buang waktu, energi, dan tentunya ongkos. Dan akhirnya sebagian besar solusi hanya berakhir di alam ide.

Mengapa begitu? Karena masyarakat hanya ingin melihat apa yang ingin mereka lihat. Ketika semua keriuhan peristiwa tidak lagi ditayangkan atau diberitakan di televisi, itu artinya semuanya telah berakhir, semua menjadi baik-baik saja dan kembali berjalan normal. Setidaknya normal menurut asumsi mereka sendiri. Jadi kalau semua sudah diasumsikan kembali normal, buat apa lagi dipermasalahkan? Lagipula masyarakat pun enggan berkomentar banyak-banyak. Kita memang bangsa pelupa dan pemaaf, dan selamanya memang akan seperti itu. Kalaupun tidak ingin disebut pelupa, itu berarti kita tidak berkomentar karena malas tahu. Buat apa mencari tahu banyak, kalau semua informasi sudah tersaji di depan TV. TV telah menjadi sumber informasi terbesar dalam hidup kita. Masalahnya adalah apakah kita benar-benar memperhatikan?

Kita semua harus tahu bahwa semua peristiwa di TV hanya akan menjadi isu pada satu momen saja, tidak selamanya menjadi bahan perbincangan. Dan layak tidaknya menjadi bahan perbincangan itu yang menentukan adalah stasiun TV-nya. Kapan momen dimulai, dipertahankan dan lalu berakhir. Lagipula siapa yang peduli kalau sudah tidak lagi ditayangkan TV?

Inilah yang menyebabkan diskusi tentang masalah dan solusi hanyalah rangkaian waktu yang telah disetting, tidak pernah tuntas. Begitu semua keriuhan berakhir, maka aplikasi di lapangan hanya berharap dari kemurahan hati sang pengambil kebijakan. Apa mau dilanjutkan atau dibiarkan begitu saja hingga ada kejadian selanjutnya.

Cukup hentikan pemberitaannya, semua pasti beres..

Negara Panoptikon: Sebuah Kritik

Negara panoptikon hanya menciptakan masyarakat patuh, bukan masyarakat sadar. Patuh disini bermakna bahwa masyarakat memandang hukum atau aturan yang berlaku dalam mekanisme ‘reward & punishment’, dalam perspektif benar-salah. Padahal sejatinya, hukum haruslah dipandang sebagai sebuah level kesadaran. Manusia yang sadar hukum akan berperilaku tidak hanya sekedar dalam perspektif benar-salah, namun telah berada pada tataran baik-buruk. Manusia yang sadar hukum akan mampu menggerakkan atau mengorganisasikan segala tingkah lakunya dalam memilih dan menentukan secara sadar mana yang baik, yang harus dilakukan dan mana yang buruk, yang tidak semestinya dilakukan.

Negara panoptikon mengkerdilkan hakikat manusia sebagai insan independen dan bertanggungjawab yang dianugerahi kehendak bebas. Kehendak bebas disini berarti bebas dalam memutuskan segala pilihan berdasarkan tingkat kematangan rasional, emosional dan spiritualitasnya. Manusia dalam negara panoptikon hanya dipandang sebagai individu-individu yang mempunyai kecenderungan untuk melanggar aturan, sehingga harus diawasi terus menerus agar bisa tertib. Ini jelas-jelas mengkerdilkan hak asasi manusia sebagai manusia yang merdeka.

Aksi Mahasiswa Kini: antara Simpati dan Resistensi

Mahasiswa adalah agen perubahan, agen kontrol sosial, dan agen kekuatan moral. Tiga fungsi inilah yang menghantarkan eksistensi mahasiswa sebagai kumpulan individu muda yang berjiwa kritis dan membebaskan menjadi sebuah anugerah yang patut disyukuri oleh masyarakat. Eksistensi disini maknanya bukan hanya sekedar ada, namun memberi manfaat. Eksistensi inilah yang selama ini telah berhasil tercatat dalam lembar-lembar sejarah sebagai garda depan (front line) dalam pendobrak kemapanan sebuah era.

Era boleh saja berganti, namun bara semangat mahasiswa harus tetap terjaga. Bagai tongkat estafet, jiwa dan semangat mahasiswa harus tetap diturunkan dari generasi ke generasi. Kondisi idealnya, semangat ini harusnya tidak boleh tercederai oleh apapun, tidak boleh meredup walau sedikitpun. Namun, dunia dan isinya tidaklah statis, lompatan-lompatan perubahan selalu saja terjadi. Begitupun mahasiswa sebagai salah satu entitas yang berada di dalamnya. Konsekuensi logisnya adalah selalu terjadi pergesakan antara idealisme dan kepentingan dalam tubuh mahasiswa yang berlangsung terus menerus.

Simpati & Resistensi
Simbiosis mutualisme antara mahasiswa dan rakyat adalah sebuah fondasi, dimana bagi mahasiswa, simpati dan kepercayaan masyarakat sebagai perekatnya yang harus benar-benar dijaga utuh agar tetap kokoh. Ini dilakukan demi menjaga independensi mahasiswa dalam perjuangannya. Bahwa perjuangan mereka harus benar-benar mewakili rakyat, demi kemaslahatan rakyat. Karena mahasiswa adalah corong suara masyarakat. Merekalah megafon-megafon yang sanggup menjembatani suara rakyat menuju parlemen. Merekalah sang penggarap tanah air tanpa penindasan. Merekalah penghuni bangsa yang gandrung keadilan. Merekalah narator-narator yang sanggup membahasakan kegelisahan dan nasib rakyat sebagai bahasa kebenaran. Di lidah merekalah suara-suara rakyat dititipkan. Sehingga hubungan harmonis antara mahasiswa dan rakyat merupakan syarat mutlak dalam setiap aksi mahasiswa.

Namun kenyataan yang ada saat ini, percik-percik resistensi oleh rakyat mulai terlihat. Rakyat saat ini sudah menunjukkan gejala penolakan terhadap berbagai aksi mahasiwa yang terjadi. Lihat saja kondisi yang ada sekarang, mahasiswa melawan rakyat terjadi dimana-mana. Lalu sebenarnya posisi mahasiswa ada dimana sebenarnya? Pertanyaan inilah yang harus menjadi otokritik bagi mahasiswa. Apakah atau siapakah yang salah? Tujuan aksi mahasiswa harus dipertanyakan kembali, apakah benar-benar membela rakyat atau karena ada alasan lain diluar itu. Banyak kepentingan, baik  itu pribadi maupun kepentingan kelompok yang dihadirkan secara implisit dalam setiap aksi, bertopeng membela kepentingan rakyat. Inilah yang harus diberangus demi mengembalikan hakikat perjuangan mahasiswa kembali ke kedudukan semulanya.

Epilog
Sejatinya mahasiswa adalah identitas mulia yang harus suci dari kepentingan-kepentingan. Mahasiswa adalah individu-individu yang tercerahkan. Itu yang tidak disadari oleh mayoritas mahasiswa. Mereka tidak menyadari hakekat sejati dari identitasnya sebagai mahasiswa. Hal inilah yang menyebabkan aksi-aksi masa kini menjadi kehilangan makna dan tujuan aslinya. Yang tampak adalah egoisme dan vandalisme. Ataukah memang harus muncul istilah intelektual preman?

Kajian Pembangunan Kota Baubau dengan Pendekatan Semiotika: Sebuah Pengantar

Kita sudah sama-sama sering melihat atau membaca tentang kajian pembangunan pada suatu wilayah, baik dari sisi sosial, ekonomi, ekologi atau budaya. Itu kayaknya sudah dianggap sebagai suatu kemafhuman, karena tanpa kegiatan seperti itu maka tidak akan ada skripsi atau tesis mahasiswa yang berjejer di rak-rak perpustakaan universitas. Percayalah.

Untuk diketahui, pengertian dari semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji atau memaknai suatu tanda. Bagi semiotika, yang dimaksud tanda adalah apa saja yang mencakup segala hal, mulai dari bahasa, warna dan bentuk pakaian, gerak-gerik tubuh, menu makanan, musik, dan lain-lain. Segala sesuatu yang dapat mewakili atau menggantikan yang lain disebut tanda. Jadi intinya seperti itulah. Seperti apa itu? yaitu sederhananya, semiotika mempelajari relasi diantara komponen-komponen tanda, serta relasi antar komponen-komponen tersebut dengan masyarakat penggunanya. Jadi dengan memahami konsep semiotika, seseorang dapat menganalisis sebuah pesan dari segala sesuatu yang coba ditampilkan atau dikomunikasikan kepadanya.

Masuk ke inti, pembangunan di kota Baubau dalam kurun waktu 10 tahun terakhir sejak otonomi daerah telah berkembang pesat. Bisa kita saksikan, beberapa diantaranya yaitu pembukaan sejumlah kawasan permukiman baru, revitalisasi kawasan wisata seperti kawasan benteng Keraton Buton, gua lakasa dan wisata Air Tirta Rimba, pembangunan sejumlah ruang terbuka publik seperti pantai Kamali dengan landmarknya yaitu naga, bukit Kolema, bukit Wantiro, pantai Topa, renovasi pasar Wameo serta yang terakhir yaitu pembangunan kawasan terpadu Kota Mara. Sampai disini, bisa dibilang pemerintah daerah dinilai telah cukup sukses untuk mengukuhkan status dan dominasi Kota Baubau sebagai sentral bagi wilayah hinterlandnya, terlepas dari masih buruknya manajemen pengelolaannya.

5

Andai dicermati secara teliti, bisa dilihat dari gambar diatas bahwa terdapat unsur keseragaman pada sebagian besar item-item pembangunan diatas. Apa itu? yaitu pada unsur warna yang didominasi warna hijau. Ini bukanlah sebuah kebetulan. Mengapa begitu? Karena bila setiap penanda (signifier) memerlukan petanda (signified) untuk memberikan makna (signification) maka hal ini dapat dimaknai bahwa ada konstuksi makna yang coba dibangun berdasarkan warna tersebut, dalam hal ini yaitu warna dari partai politik yang diusung oleh sang Walikota terpilih. Untuk partai apa, itu tidak penting karena bukan itu pokok pembahasannya. Jelasnya, homogenitas warna pada tiap-tiap kawasan pembangunan tidak bisa kita lihat sebagai sesuatu yang terjadi sebagai kebetulan semata. Ada makna yang terkandung didalamnya. Untuk itulah studi semiotika hadir sebagai pisau analisis dalam mengkaji fenomena mengenai unsur warna yang dimasukkan dan ditampilkan secara homogen pada tiap bentukan arsitektur pada kawasan yang dibangun. Sehingga pemaknaannya tidak hanya hanya sekedar sebuah bangunan atau kawasan saja, tapi lebih merujuk kepada representasi terhadap dominasi partai penguasa pemenang Pemilukada di wilayah tersebut, dalam hal ini kota Baubau. Semua ini, tidak lain adalah sebuah bentuk komunikasi politik berupa pesan visual demi menciptakan relasi yang kuat antara pemerintah yang berkuasa dengan masyarakatnya.

Seperti itulah.

NB: Tulisan ini hadir hanya sebagai sebuah wacana pengantar yang mungkin bisa dijadikan pondasi dalam kajian-kajian lanjutan terkait semiotika dan pengaruhnya terhadap masyarakat baik ditinjau dari sisi arsitektur, sosiologi, komunikasi maupun pada bidang lainnya. Selamat mencoba. hehe